Maluku Jadi Tempat Penyiksaan Terios

Ekspedisi Terios 7 Wonders kembali digelar PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Tim Terios 7 Wonders Moluccas yang menggunakan empat unit Daihatsu Terios R Adventure ini mulai digelar pada 14 Juli 2017 dan hari ini telah finish di Pulau Morotai, Ternate, Kamis 20 Juli 2017.

Tentu sebelum sampai garis finish 15 peserta ekspedisi yang tergabung dari blogger dan media ini harus melintasi tempat bersejarah di Maluku Utara, diantaranya Desa Marikurubu, Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera Barat dan tentu saja beberapa tempat indah di Pulau Morotai.

Lantas kenapa ekspedisi Terios kali ini memilih Maluku Utara? Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, mengatakan, ekspedisi keenam ini sebenarnya sempat mau mengambil lokasi dari Maluku Selatan hingga Maluku Utara, tapi akhirnya dibatalkan.

“Soalnya Maluku luas sekali yang dipisahkan oleh laut, dan ini akan mempersulit tim kami kalau pergi dari Selatan ke Utara, akhirnya ketika diskusi panjang kita pilih ke Maluku Utara hingga Ternate saja,” ujarnya di Pulau Morotai, Kamis 20 Juli 2017

Amel juga mengakui rasa kagumnya dengan kepulauan yang ada di Indonesia bagian Timur ini. Kata dia, karena kekayaan alam Maluku bukan hanya di bawah laut saja, tapi di atasnya termasuk peninggalan sejarah perang dunia.

“Slogan dari Daihatsu Terios itu ‘Sahabat Petualang’, karena produk ini dibuat untuk mereka yang menyukai petualangan makanya program ini dibuat,” kata Amel saat memberikan pujian pada mobil andalan Daihatsu itu.

Sementara, karena ekspedisi ini sudah selesai, PT ADM pun menutupnya dengan kegiatan sosial ke sekolah-sekolah dasar yang masih tertinggal. Kata dia, kegiatan CSR ini memang rutin dilakukan sejak ada program ekspedisi Terios 7 Wonders.

Sebagai informasi, ekspedisi Terios sebelumnya sukses digelar seperti Sumatera Coffee Paradise (2012), Java Hidden Paradise (2013), Amazing Celebes Heritage (2014), Wild Borneo Adventure (2015), dan Tour de Flores (2016), hingga Terios 7 Wonders Wonderful Moluccas 2017 kali ini.

Keluh kesah peserta ekspedisi

Asoka Remadja, salah satu vloger yang ikut dalam ekspedisi ini menuturkan, jarak tempuh selama ekspedisi itu sekitar 2.000 kilometer lebih dan jalan yang dilintasi juga sangat beragam. Kata dia, mulai dari naik turun, bebatuan, dan masuk hutan dilewati.

“Kendalanya pernah ban pernah selip waktu nyasar, jadi kami masuk lumpur mobil tidak bisa keluar. Tapi over all tidak ada kendala, dan bensin lumayan irit cuma isi beberapa kali tapi kita harus pintar main rpm,” ujarnya di Pulau Morotai.

Sementara, menurut Wisnu Saputra dari perwakilan jurnalis menuturkan, pengalamannya selama mengendarai Terios di jalur Maluku Utara, kendala terberat hanya waktu maka dari itu tidak ada kata pelan saat melintas jalur yang bagus.

“Kita ngebut setiap etape (tujuan ekspedisi) di atas 80 km/jam karena kita ngejar waktu jarang banget 40 km/jam pokoknya, dan untuk konsumsi bahan bakar antara transmisi manual dan matik itu tidak beda jauh,” ujarnya kepada VIVA.co.id.

Tapi dirinya sempat mengeluh saat bertukar mobil dengan tim lain untuk menggunakan transmisi matik. Kenapa? “Kalau saya pribadi lebih enak pakai yang manual, bisa ngira kecepatan dan matik itu naiknya berat apa lagi empat penumpang, saya ngakalinya pindahin ke L tuas transmisinya tidak di D biasa,” katanya.

SUMBER : viva.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *